Wednesday, April 18, 2012

KeTiKa HaRuS MeNanGiS

Menangis, tak hanya persoalan anak kecil, orang dewasa pun bisa menangis. Ada tangis bahagia, ada tangis luka. Keduanya kadang mewarnai sela-sela kehidupan kita. Tangisan adalah fitrah manusia. Sebuah kewajaran ketika kita pernah menangis, apapun alasan yang melatarbelakanginya. Ketika menangis, segala perasaan tertumpah ruah di mana kadang kita sampai lupa pada akal sehat yang semestinya berjalan. Luapan emosi tak tertahankan, mengalir bersama setiap tetes air mata kita.
Saya yakin, anda pun pernah menangis…?

Entah dalam moment apa. Ketika seseorang menangis, jelas batin yang sedang berbicara. Hatinya terusik. Jika sudah demikian, biarkan untuk sejenak membiarkan mereka. Biarkan sampai puas, toh pada saatnya akan reda. Baru, setelahnya, kita ajak berbincang mengenai persoalan yang dihadapainya. Cara yang terbaik adalah bicara dari hati ke hati. Jika kita melihat kesalahan ada pada dirinya, biarkan mereka meluahkan segalanya lewat kata-kata yang mungkin terlontar. Menyalahkah sikapnya, bukan cara yang bijak pada kondisi seperti itu.

Mengapa secara tiba-tiba saya menulis tentang persoalan remeh seputar menangis. Ya, karena sering saya tak tega melihat orang menangis. Ketika ada orang yang sedang menangis, kadang saya suka menungguinya sampai selesai. Ketika tangisan sudah reda, baru saya mencoba untuk mendengarkan keluh kesah yang dihadapinya. Bukan untuk sok bijak, hanya mencoba untuk belajar peduli saja dengan perasaan yang sedang diderita seseorang.

Menangis memang sangat terkait dengan kondisi jiwa. Jiwa yang sedang tertekan, merasa cobaan begitu berat. Atau kehilangan orang yang kita cinta. Kadang hati kita merasa hancur, tak ada lagi harapan. Begitulah kondisi jiwa kita yang bisa jadi pernah kita rasakan. Dan kalau memang tak tahan, menangislah sepuasnya. Asal setelahnya, kita bisa memaknai setiap tangisan itu. Memaknai mengapa kita mesti menangis, apakah dengan menangis saja persoalan bisa terselesaikan. Kelak, anda akan menyadari dengan sendirinya.
Lantas, apakah menangis identik dengan kecengengan..?
Tidak juga.

Justru, tangisan bisa jadi pertanda kelembutan hati kita. Contoh nyatanya, mungkin anda pernah menyaksikan anak-anak pengamen jalanan yang harus bekerja keras mendapatkan sesuap nasi, gelandangan yang bertebaran dijalan-jalan atau mereka yang harus rela tidur di emper-emper toko karena tak punya rumah. Jika anda menangis, sekedar sekali saja meneteskan air mata atau setidaknya batin anda menangis. Itulah tanda kelembutan. Sebuah potensi nurani yang perlu dipupuk. Kelak, kondisi yang demikian yang akan mengantarkan kita pada kepedulian nyata membantu orang-orang yang sedang tertimpa kesusahan.
Begitu juga ketika kita menyadari pernah berlaku dholim terhadap orang lain, atau kita merasa banyak dosa. Tak mengapa anda menangis. Apalagi bagi seorang muslim. Menangis bisa menjadi refleksi atas tingkap polah kita selama ini. Sendiri dimalam hening, beranjak takbir melaksanakan sholat tahajud, bisa menjadi terapi yang baik bagi kebersihan jiwa kita.

Pada malam yang demikian, menangislah. Menyadari akan eksistensi diri sebagai seorang hamba, menyadari betapa tingkah polah kita banyak yang salah, mendholimi orang, atau dosa-dosa berlumuran. Sekali lagi, menangislah. Asalkan setelahnya kita bisa mengambil makna dari setiap tetes tangisan kita.

Wednesday, April 11, 2012

MAAF KAN PAPA

Maafkan aku anak anakku.... apabila kemarahan ku yang meluap luap terkadang membebani hati dan jiwamu... sungguh papa sangat sayang kalian... sungguh berdosa papa melibatkan kalian dalam setiap masalah  yang papa alami... maafkan papa nak... papa hanya manusia yang naif yang jauh dari sempurna sebagai orang tua, tetapi insya ALLAH nak.. tujuan papa baik papa ingin kalian menjadi anak yang baik nantinya dalam segala hal. setiap teriakan dalam kemarahan papa terselip juga rasa seal dan tangis yang mendera sungguh hati ini perih setiap papa memarahi kalian... papa hanya bisa menangis dalam jiwa yang kering ini... tidak ada kata kata yang bisa mewakili permintaan maaf papa ini, insya ALLAH jika kelak nanti papa sudah gak ada kalian bisa menjadi anak yang berbakti kepada ALLAH, kepada Negara Nusa dan Bangsa.

Menikah Lebih Baik daripada Melajang

Ketahuilah! Bahwa Allah dan Rasul-Nya telah mengutamakan nikah dan memberikan dorongan yang kuat untuk menuju ke sana. Allah Ta'ala berfirman,
وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Al-Ruum: 21)
 
Di antara bentuk kesempurnaan rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kesempurnaan hikmah-Nya adalah Allah tidak menciptakan makhluk hanya sejenis. Setiap sesuatu telah Dia ciptakan dalam kondisi berpasang-pasangan, supaya kehidupan ini bisa terus berlanjut.  Di antaranya manusia, Allah telah menciptakan mereka dalam jenis laki-laki dan perempuan agar tercipta cinta dan kasih sayang serta agar lahir keturunan sehingga terjaga keberlangsungan hidup.
Sedangkan orang yang menyeru dilegalkannya kawin sesama sejis berarti melawan qadrat yang sudah Allah tetapkan dan melanggar fitrah  lurus yang dimiliki manusia normal.
Ini semua menunjukkan urgensi pernikahan dan metovasi untuk menikah. Kalau bukan karena ini, tentu makhluk hidup cukup sejenis saja. Akan tetapi, Allah dengan hikmah-Nya yang luar biasa mengatur apa saja dengan rapi dan indah tidak melakukan demikian. Dia ciptakan berpasangan dan Dia perintahkan juga menikah sebagai jalan termormat untuk mendapatkan keturunan.
Allah Ta'ala berfirman,
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
"Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (QS. Al-Nisa': 3)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. al-Nuur: 32)
 
Anjuran Menikah dalam Hadits
Dalam khazanah hadits Nabi Sٍhallallahu 'ِِAlaihi Wasallam, terdapat banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan menikah. Berikut ini beberapa yang dapat kami sebutkan: 
 
Pertama, Hadits Ibnu Mas'ud, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu dapat menjadi tameng baginya (melemahkan syahwat)." (Muttafaq 'alaih)
 
Hadits shahih ini menjadi sandaran dalam masalah ini. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak bicara para pemuda umat ini, kapan sajadan dan mereka, yang sudah memiliki kemampuan menikah, agar segera menikah. Kemudian beliau menjelaskan pengaruh dan manfaatnya, yaitu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Keduanya merupakan sesuatu yang paling penting untuk dijaga oleh setiap orang. Sebab, mata dan kemaluan merupakan pintu masuk utama bagi setiap keburukan. Mata itulah yang melihat dan kemudian menimbulkan hasrat dan angan-angan. Sedangkan kemaluan yang membenarkan atau mendustakannya.
Dalam memahami kata  al-ba'ah dalam hadits di atas ada beberapa pendapat. Ada yang memahaminya sebagai sebagai kemampuan untuk menikah, ada yang memahami lain sebagai kemampuan untuk berjima'; dan ada yang memahami sebagai kemampuan untuk memberi nafkah. Dan sebenarnya, kata ba'ah bisa mencakup ketiga-tiganya.
Al-Ba'ah bisabermakna kemampuan menikah, kemampuan berjima', dan kemampuan memberi nafkah.
Hadits di atas menunjukkan dengan jelas akan kewajiban menikah bagi yang sudah mampu. Sebab, lafadz, hadits menggunakan bentuk perintah, yaitu fal-yatazawwaj (maka hendaklah menikah).
Hadits juga menunjukkan larangan melajang, seperti yang bisa kita pahami berdasarkan lahiriyah kalimat dalam hadits. Hadits di atas juga menunjukkan haramnya kebiri, karena hadits memberikan alternatif bagi yang belum mampu menikah agar berpuasa.
 
Kedua, hadits shahih dari Sa'ad bin Abi Waqqash radliyallah 'anhu, bahwa dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memperkenankan Utsman bin Mazghun untuk melajang. Kalau saja beliau membolehkan hal itu, tentu kami akan melakukan pengebirian." (HR. Bukhari)
Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam shahihnya di bawah bab "Melajang dan mengebiri yang tidak disukai."
 
Ketiga, diriwayatkan dari samurah bin Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang melajang.
Pernah ada tiga orang yang datang menghadap Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu salah seorang dari mereka berkata, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah." Nabi Kemudian bersabda; "Demi Allah aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku ini berpuasa dan juga berbuka, mengerjakan shalat malam dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Maka, barangsiapa benci terhadap sunnahku, dia bukan bagian dari umatku." (HR. Bukhari)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa kebencian untuk menikah tanpa ada alasan syar'i, bahkan dalam rangka ta'abbud kepada Allah, merupakan bentuk kebencian kepada sunnah yang mulia serta sebagai bentuk kejahilannya terhadap petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak menikah karena alasan yang tidak jelas kemudian memenuhi birahinya dengan berzina atau melakukan onani dan mansturbasi? Mereka telah melakukan perbuatan yang keji dan hina yang bisa merusak kehormatan wanita, menciderai nasab, dan merusak kelangsungan hidup manusia.
 
Keempat, dalam riwayat Ibnu Umar, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ
"Nikhilah wanita-wanita yang penyayang lagi subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti di hadapan umat-umat yang lain." (HR. Abu Dawud dan Nasai)
Hadits ini juga menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menikah dan memperbanyak anak. Mafhum mukhalafahnya, sangat dilarang untuk membujang tanpa dan membatasi anak tanpa sebab yang syar'i.
 
Perhatian Ulama Salaf Terhadap Nikah
 
Kaum salaf sangat antusias untuk menikah, karena mereka mengetahui adanya kebaikan yang banyak dan pahala yang besar di dalamnya.
Ibnu Mas'ud Radliyallah 'Anhu berkata, "Kalau saja aku belum terlalu tua seperti ini, tentu aku ingin agar di sisiku ada seorang istri." (Diriwayatkan Ibnu Syaibah (III/453-454 dengan sanad yang shahih)
Ibnu 'Abbas Radliyallah 'Anhu pernah bertanya kepada Sa'id bi Zubair, "Apakah engkau telah menikah?' Dia menjawab, "Belum." Ibnu 'Abbas lalu berkata kepadanya,
فَتَزَوَّجْ فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً
"Menikahlah, karena sebaik-baik umat ini adalah paling banyak istrinya." (HR. al Bukhari, no. 4681)
..Tidaklah seseorang itu berbuat zina melainkan akan dicabut darinya cahaya Islam. Jika Allah menghendaki bisa mengembalikan cahaya itu atau tidak mengembalikannya."
Ibnu 'Abbas pernah berkata kepada anak-anaknya, "Sesungguhnya kalian nampak sudah dewasa dalam memandang seorang wanita. Karena itu, siapa di antara kalian yang saya nikahkan, akan segera saya nikahkan. Tidaklah seseorang itu berbuat zina melainkan akan dicabut darinya cahaya Islam. Jika Allah menghendaki bisa mengembalikan cahaya itu atau tidak mengembalikannya."
Thawus bin Kisan berkata, "Tidak akan sempurna ibadah seorang pemuda hingga dia menikah."
Ibrahim bin Maisarah berkata, "Thawus pernah berkata kepadaku, 'Engkau mau menikah, atau akan aku katakan kepadamu perkataan yang pernah diucapkan Umar kepada Abu al-Zawa'id, "Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau dosa."
"Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau dosa." Umar bin Khathab
Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dimiliki seorang wanita daripada seorang suami, dan tidak sesuatu yang lebih baik untuk dimiliki seorang laki-laki daripada seorang istri."
Beliau juga berkata, "Hidup melajang sama sekali bukan bagian dari Islam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri lima belas wanita dan wafat dalam keadaan meninggalkan sembilan orang istri." Selanjutnya beliau berkata lagi, "Seandainya Bisyr bin al-Harits menikah, tentu urusannya menjadi sempurna." (Al-Wara' karaya Al-Khalal hal. 93-94 ketika berbicara mengenai Imam Ahmad)
Riwayat-riwayat dalam masalah ini sangat banyak, namun yang telah disebutkan di atas kiranya sudah mencukupi untuk memotifasi menikah, bahwa menikah lebih baik daripada melajang

sumber : http://www.addakwah.com

Thursday, April 5, 2012

CINTAILAH ISTRI ANDA



Seorang wanita adalah pusat segala kebaikan yang dikuasai penuh oleh perasaan. Keberadaannya tergantung pada cinta dan kasih sayang. Ia ingin dicintai oleh orang lain dan makin banyak yang mencintai makin baik. Ia sangat mengorbankan dirinya agar disukai. Sifat ini sangat kuat dalamdiri wanita sehingga bila ia menyadari bahwa tak seorang pun mencintainya, ia akan meng-anggap dirinya gagal. Ia akan kecewa terhadap dirinya dan me-rasa terbuang. Karena itu, pasti orang dapat menyatakan bahwa rahasia pria yang berhasil dalam kehidupan perkawinannya adalah pengungkapan rasa cintanya kepada dirinya.

Rekan-rekan sekalian ! Istri anda, sebelum meni-kah dengan anda sangat menikmati cinta dan kasih sayang orang-tuanya. Kini, setelah ia menyetujui perkawinan dengan anda, setelah ia memilih untuk hidup bersama anda, ia mengharapkan anda untuk memenuhi keinginan-keinginannya dalam cinta dan kasib sayang. Ia mengharapkan anda untuk menunjukkan cinta yang Iebih daripada yang diterimanya dari orangtua dan sahabat--sahabatnya. Ia telah begitu mempercayai anda dan itulahsebab-nya maka ia mempercayai anda dengan segala keberadaannya.

Rahasia perkawinan yang bahagia adalah pengungkapan cinta kepada istri anda. Bila anda ingin mendapatkan hatinya, bila anda ingin agar ia mematuhi permintaan-permintaan anda, bila anda ingin memper-kuat tali perkawinan anda, buatlah agar ia mencintai anda, atau selalu setia kepada anda, atau ..., maka anda harus selalu menunjukkan kasih sayang dan mengungkapkan cinta anda kepadanya.

Bila anda tidak memberikan kasih sayang anda kepada istri, maka ia akan kehilangan daya tarik kepada rumahnya, anak-anaknya dan di atas semua itu, kepada anda. Rumah anda akan selalu dalam keadaan berantakan. Ia tidak akan sudi melakukan usaha untuk seseorang yang tidak dicintainya.Sebuah rumah tanpa kasih sayang akan mirip dengan neraka yang menyala, walaupun rumah itu tampak sangat rapi dan penuh dengan barang-barang Istri anda mungkin akan menjadi sakit atau mengalami kekacauan mental.Ia mungkin akan mencari kesenangan dengan orang lain bila anda tidak memberinya cinta dan kasih sayang. Ia mungkin akan bersikap dingin terhadap anda dan rumah tangga sehingga ia akan menghendaki perceraian.

Andalah yang bertanggungjawab terhadap semua ini karena anda telah gagal untuk memberinya cinta dan kasih sayang. Memang benar, bahwa tahap-tahap perceraian terjadi karena sikap-sikap yang tidak ramah.
Persahabatan dan cinta dalam keluarga lebih berharga dari-pada apa pun dan karena itulah Allah telah menjadikannya tan-da-tanda kekuasaan dan berkah yang luar biasa yang telah dika-runiakan kepada manusia. Al-Quran menyatakan : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Diamencip-takan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS 30:21)

Imam Shadiq a.s. menegaskan: "Barangsiapa yang menjadi sahabat kami, akan lebih mengungkapkan kebaikan hatinya ke-pada pasangannya.
Rasulullah saw. menyatakan: "Makin setia seseorang kepada pasangannya semakin banyak kebaikan hati yang diungkapkannya.

Rasulullah saw. mengatakan: "Kata-kata seorang pria yang ditujukan kepada istrinya: 'Aku sangat mencintaimu' tak akan pernah lepas dari hati istrinya.Cinta dan kasih sayang tentu saja harus tulus agar dapat mencapai hati seseorang, itu pun belum cukup karena mengung-kapkan rasa sayang itu adalah penting. Dengan menunjukkan perasaan anda lewat kata-kata dan perbuatan, maka cinta anda akan dibalas dan hati anda pun akanmempererat ikatan cinta itu.

Berterus-teranglah dan jangan segan-segan mengungkapkan rasa cinta kepada istri anda. Baik di belakangnya maupun di ha-dapannya anda harus memberikan pujian kepadanya. Kirimilah surat kepadanya ketika anda sedang keluar kota dan katakan bahwa anda merindukannya. Sekali-sekalibelilah sesuatu untuknya. Teleponlah ia ketika anda sedang bekerja dan tanyakan bagaimana keadaannya.

Salah satu hal.penting dalam pikiran seorang wanita adalah kata-kata pengungkapan cinta semacam ini.

Wednesday, April 4, 2012